Merauke, Suara Bentara | Gubernur Papua Selatan, Apolo Safanpo, melakukan audiensi dengan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Dirjen PKH Kementan) di Jakarta, Selasa (10/2/2026), guna mendorong pengembangan peternakan terintegrasi di Provinsi Papua Selatan.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah dalam memperkuat ketahanan pangan berbasis protein hewani sekaligus meningkatkan kemandirian ekonomi daerah.
Dalam rilis yang diterima Suara Bentara, Rabu (11/2/2026), Gubernur Apolo menegaskan kesiapan Pemerintah Provinsi Papua Selatan untuk membangun sistem peternakan terintegrasi dari hulu hingga hilir, meliputi penyediaan pakan, pembibitan, hingga sarana produksi pendukung.
“Pemerintah Provinsi Papua Selatan siap bekerja sama dengan Kementerian Pertanian untuk membangun peternakan secara menyeluruh dan berkelanjutan,” ujarnya.
Apolo menambahkan bahwa langkah awal akan dilakukan melalui koordinasi dengan pemerintah kabupaten dan dinas teknis agar program segera berjalan.
“Kami ingin produksi peternakan mampu memenuhi kebutuhan konsumsi lokal dan mendukung program nasional seperti Makan Bergizi Gratis,” jelasnya.
Pengembangan ekosistem peternakan ini diharapkan mampu menekan disparitas harga pangan, memperkuat kemandirian daerah, dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat Papua Selatan. Pemerintah menargetkan ekosistem berjalan secara bertahap, berkelanjutan, dan berbasis kemitraan agar hasilnya nyata dan dapat dirasakan publik.
Pengembangan Bertahap Berbasis Kemitraan
Dirjen PKH Kementan, Agung Suganda, mengatakan Kementerian Pertanian siap mendorong pembangunan ekosistem peternakan terintegrasi di Papua Selatan sebagai bagian dari pengembangan ekosistem pangan strategis nasional berbasis protein hewani. Program ini mencakup komoditas sapi, ayam pedaging, ayam petelur, dan telur.
Agung menjelaskan bahwa pengembangan dapat dilakukan melalui pendekatan klaster yang disederhanakan secara bertahap hingga ditetapkan satu klaster prioritas, dengan mempertimbangkan kesiapan wilayah dan ketersediaan anggaran. Papua Selatan masuk dalam fokus pengembangan dengan pendekatan khusus agar tetap berjalan meski dukungan anggaran nasional masih terbatas.
Ia katakan, pembangunan ekosistem tetap bisa dimulai melalui kemitraan. “Keterbatasan anggaran tidak boleh menghentikan langkah, karena infrastruktur dasar seperti pabrik pakan dan pembibitan bisa dibangun lebih dulu dan dikembangkan bersama mitra,” ujarnya saat audiensi dengan Gubernur Papua Selatan, Apolo Safanpo.
Menurut Agung, Pengembangan industri ayam bertumpu pada dua faktor utama yaitu pakan dan bibit. “Kalau pakan dan bibit tersedia secara lokal, biaya produksi turun dan harga di tingkat masyarakat bisa lebih terkendali,” katanya.
Selain itu, pembangunan kandang modern, baik open side maupun semi-mekanis, juga menjadi bagian dari penguatan ekosistem.
“Mekanisasi sederhana seperti sistem pemberian pakan otomatis dan pengelolaan limbah dapat meningkatkan efisiensi tanpa biaya investasi yang terlalu tinggi, sebagaimana telah dilakukan di beberapa daerah lain,” tambahnya. (Emanuel)






