Merauke, Suara Bentara | Dermaga di Pelabuhan Agats, Kabupaten Asmat, Papua Selatan, ambruk saat aktivitas bongkar muat peti kemas berlangsung, Sabtu (14/2/2026) siang. Peristiwa ini menyebabkan aktivitas di pelabuhan utama Asmat tersebut terhenti sementara.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, tidak terdapat korban jiwa dalam insiden tersebut. Namun, bagian dermaga yang runtuh diperkirakan sepanjang 10 hingga 12 meter, sehingga tidak dapat digunakan untuk aktivitas sandar kapal maupun bongkar muat barang. Akibat kerusakan parah itu, bisa dipastikan aktivitas pelabuhan lumpuh total selama beberapa waktu ke depan.
Dari visual yang beredar di lokasi kejadian, terlihat ujung dermaga patah dan sebagian struktur beton ambruk ke arah perairan. Tiang penyangga tampak rusak, sementara sebuah kapal kargo bermuatan peti kemas masih berada di sisi dermaga saat kejadian. Aktivitas bongkar muat langsung dihentikan demi alasan keselamatan.
Pelabuhan Agats merupakan pelabuhan umum yang melayani angkutan penumpang dan barang. Pelabuhan ini menjadi salah satu urat nadi distribusi logistik dan mobilitas masyarakat Kabupaten Asmat, mengingat wilayah tersebut tidak memiliki akses jalan darat yang menghubungkannya dengan daerah lain.
Sekretaris Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Provinsi (DPRP) Papua Selatan, Arie Suprapto, yang berada di Agats saat kejadian, meminta Kantor Syahbandar setempat segera melaporkan peristiwa itu secara berjenjang hingga ke kementerian terkait agar rehabilitasi dapat segera dilakukan.
“Saya kebetulan berada di Agats dan melihat langsung kondisi dermaga yang ambruk ini. Kita berharap Syahbandar segera melaporkan hal ini, dan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan segera mengambil langkah untuk memperbaiki sekaligus menyelidiki insiden ini,” kata Arie melalui sambungan telepon.
Ia menegaskan, dampak kerusakan dermaga tersebut sangat besar terhadap perekonomian masyarakat. Pelabuhan Agats merupakan pintu utama distribusi kebutuhan pokok, material pembangunan, serta jalur transportasi penumpang.
“Pintu masuk ke Kabupaten Asmat hanya ada dua, yakni melalui transportasi udara dan pelabuhan. Tidak ada jalan darat yang menghubungkan Asmat dengan daerah lain. Jika pelabuhan terganggu, maka aktivitas ekonomi masyarakat juga akan terdampak,” ujarnya.
Politisi PDIP itu menyoroti aktivitas bongkar muat peti kemas di Asmat yang kerap dilakukan di pelabuhan umum. Seharusnya, kata dia, bongkar muat peti kemas dilakukan di area khusus yang disediakan Kantor Syahbandar, yakni di samping pelabuhan umum tersebut.
“Kalau tidak salah ada space atau ruang yang telah disiapkan Syahbandar untuk aktivitas bongkar muat. Tidak bisa aktivitas bongkar muat peti kemas dilakukan di areal sandar kapal penumpang, ini tentu rawan untuk keselamatan masyarakat maupun pelabuhan itu sendiri,” katanya.
Hingga berita ini diterbitkan, Suara Bentara masih berupaya mengonfirmasi pihak Kantor Syahbandar Agats terkait penyebab ambruknya dermaga serta langkah penanganan yang akan dilakukan. (Emanuel)





