Asmat, Suara Bentara | Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tame Ayetu terus meningkatkan produksi Makan Bergizi Gratis (MBG) di Distrik Agats, Kabupaten Asmat, Papua Selatan. Saat ini, dapur tersebut telah menyiapkan 1.466 porsi makanan setiap hari untuk tujuh sekolah, dan ditargetkan meningkat hingga 2.500 porsi dalam empat minggu operasional.
Program yang menyasar peserta didik dari PAUD hingga SMP itu tak hanya difokuskan pada pemenuhan kebutuhan gizi anak, tetapi juga digerakkan sebagai pengungkit ekonomi masyarakat lokal.
Asisten Lapangan SPPG Tame Ayetu, Muhammad Kaidir, mengatakan selama bulan Ramadhan pihaknya menyesuaikan menu dengan menyediakan bahan kering bagi siswa muslim agar dapat dibawa pulang untuk berbuka puasa. Sementara siswa nonmuslim tetap menerima dan mengonsumsi makanan di sekolah.
“Setiap hari kami menyalurkan 1.466 porsi dengan menu berbeda. Distribusi dilakukan pagi hari agar makanan tetap segar dan layak konsumsi,” ujar Kaidir, Senin (2/3/2026).
Ia menjelaskan alur produksi dimulai dari perencanaan menu oleh akuntan dan ahli gizi, pengadaan bahan baku melalui mitra dan pemasok, hingga proses penyortiran, pencucian, pengolahan, pengemasan, dan distribusi. Seluruh tahapan mengikuti standar operasional prosedur (SOP) kesehatan yang ketat.
Menurutnya, dampak program MBG tidak hanya pada peningkatan kesehatan dan konsentrasi belajar anak, tetapi juga pada sektor ekonomi. Pasokan bahan baku melibatkan pelaku usaha kecil, petani, nelayan, dan peternak setempat.
“Program ini memberi efek berganda. Anak-anak mendapatkan asupan gizi seimbang, sementara ekonomi masyarakat juga ikut bergerak,” katanya.
Kepala SPPG Tame Ayetu, Irwanto, menambahkan dapur tersebut mulai beroperasi sejak 24 Februari 2026. Pada pekan pertama produksi mencapai 1.041 porsi dan meningkat menjadi 1.466 porsi di pekan kedua.

Tujuh sekolah penerima manfaat yakni SPS Betlehem, TK Yapis, SMP Yapis, SMPIT Ma’arif, SDIT Ma’arif, dan SD Negeri Mbait. Penerima manfaat meliputi siswa, guru honorer, dan tenaga tata usaha.
Irwanto menyebut, standar gizi MBG mengacu pada prinsip gizi seimbang sesuai Angka Kecukupan Gizi (AKG) Kementerian Kesehatan, dengan kandungan energi 300–500 kilokalori untuk tingkat SD dan lebih tinggi bagi jenjang SMP dan SMA. Menu disusun oleh ahli gizi dengan memanfaatkan bahan lokal serta memprioritaskan protein hewani guna mencegah stunting.
“Menu bervariasi sesuai standar pusat. Ada karbohidrat, protein hewani dan nabati, buah, serta susu. Khusus Ramadhan, kami siapkan menu kering,” ujarnya.
Dalam operasionalnya, dapur MBG Tame Ayetu didukung 47 relawan yang terbagi dalam sejumlah divisi, mulai dari persiapan hingga distribusi. Target produksi ditingkatkan secara bertahap: 1.000 porsi pada minggu pertama, 1.500 minggu kedua, 2.000 minggu ketiga, dan 2.500 porsi pada minggu keempat.
“Saya turun langsung memantau produksi bersama tim. Prinsipnya keamanan pangan, higienitas, dan nilai gizi harus terjaga,” tegasnya.
Dengan peningkatan kapasitas tersebut, SPPG Tame Ayetu diharapkan menjadi model pelayanan MBG yang tak hanya menyasar kesehatan anak, tetapi juga memperkuat rantai ekonomi lokal di Asmat. (Emanuel)


