Home / SosBud / Program CSR PT BIA Beri Dampak bagi Delapan Kampung di Muting – Ulilin

Program CSR PT BIA Beri Dampak bagi Delapan Kampung di Muting – Ulilin

Merauke, Suara Bentara | Masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir Kali Bian dan Rawa Kanat, Distrik Muting, merasakan dampak positif dari kehadiran PT Bio Inti Agrindo (BIA), perusahaan perkebunan kelapa sawit yang beroperasi di Distrik Muting dan Ulilin, Kabupaten Merauke, Papua Selatan.

Salah satu tokoh masyarakat yang juga Ketua Adat Imo Wilayah 4, Wilifridus K. Kaize, mengatakan sejumlah program tanggung jawab sosial PT BIA telah berjalan di Kampung Boha. Program tersebut meliputi budidaya tanaman hutan, pendidikan, hingga penguatan UMKM seperti pembuatan sabun, abon, dan usaha kecil lainnya.

“Kehadiran PT BIA sangat penting bagi masyarakat di sini. Kami terdorong untuk berusaha. Mereka mengirim tenaga-tenaga teknis seperti guru dan pendamping pertanian. Kami bisa belajar menyadap karet, menanam sayur, membuat sabun, dan sebagainya,” kata Wilifridus Kaize.

Sementara itu, Operasional Manager ECCDP PT BIA, Renate R.T. Rahar, menjelaskan bahwa melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), perusahaan menjalankan berbagai kegiatan pemberdayaan di delapan kampung sekitar areal perusahaan. Program itu mencakup sektor ekonomi (pelatihan UMKM), pendidikan, kesehatan, dan lingkungan, termasuk penanaman bibit tanaman hutan.

“Program-program ini bertujuan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan keluarga,” ujarnya.

Renate mengatakan, perusahaan mendorong masyarakat mengembangkan komoditas yang sudah mereka miliki. Salah satunya tanaman lada milik seorang warga yang menanam 99 pohon lada di pekarangan rumah.

“Kami hanya melanjutkan apa yang sudah ada. Masyarakat mengusulkan penambahan tanaman lada, dan kami membantu menyediakan peralatan seperti poker dan perlengkapan lainnya. Pengelolaannya tetap dilakukan masyarakat, hasilnya bisa dijual ke perusahaan atau ke Merauke,” jelasnya.

Selain lada, PT BIA juga memfasilitasi pengembangan hortikultura seperti sayur-sayuran, kacang hijau, kacang panjang, hingga sawi — dengan perencanaan jangka pendek, menengah, dan panjang.

Di sektor kesehatan, perusahaan menjalankan program penurunan angka stunting melalui kegiatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta pemberian makanan tambahan bagi bayi, balita, dan ibu hamil.

Untuk sektor pendidikan, PT BIA menjalankan program baca-tulis-hitung (calistung) guna menekan angka buta huruf di kampung-kampung sekitar perusahaan.

Renate juga memaparkan perkembangan program budidaya karet masyarakat. Pekan lalu, perusahaan mencatat panen karet sebanyak 542 kilogram yang sementara disimpan menunggu pengiriman dengan jumlah yang lebih besar.

“Karet ini sudah lama ada di kampung. Kami melihat ada potensi hasil yang bisa dijual untuk meningkatkan pendapatan keluarga. Karena itu kami bekerja sama dengan pembeli untuk menampung hasil sadap masyarakat,” katanya.

Mekanisme pemasaran dilakukan melalui sistem pembelian langsung berdasarkan jumlah hasil sadap.

“Misalnya masyarakat mendapatkan 10 kilogram, maka 10 kilogram itu langsung dibeli dan dibayarkan. Kami juga menyiapkan pengumpul untuk membeli hasil dari masyarakat,” tambahnya.

Peralatan sadap karet telah disalurkan ke delapan kampung, yakni Kindiki, Boha, Muting, Selil, Wan, Kolam, Selou, dan Pahaswilayah, yang berada di sekitar areal perusahaan dan berbatasan dengan Suaka Margasatwa Danau Bian. (Emanuel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *