Agats, Suara Bentara | Krisis air bersih menghantui masyarakat Distrik Agats, ibu kota Kabupaten Asmat, Papua Selatan. Sudah sekitar dua bulan hujan tidak turun, membuat warga yang selama ini mengandalkan air hujan harus berjuang mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari.
Kondisi geografis Agats yang didominasi rawa dan perairan payau membuat masyarakat sangat bergantung pada air hujan sebagai sumber air untuk konsumsi harian. Ketika hujan tak kunjung turun, bak-bak penampungan air hujan milik warga mulai mengering.
Warga pun terpaksa mengantre di sejumlah titik sumber air yang masih tersedia. Antrean panjang warga membawa jeriken terlihat sejak pagi hingga sore hari.
“Saya sudah mengantri dari pagi, ini sudah sore, gen saya belum terisi karena antrean panjang. Hampir tiap hari saya mengantri untuk mendapatkan air,” kata Simon, warga Asmat.
Warga lainnya, Nasrianto mengatakan, kondisi air yang diperoleh warga saat ini juga tidak layak untuk dikonsumsi. Air yang tersedia berwarna keruh kekuning-kuningan sehingga sebagian warga hanya menggunakannya untuk mandi dan mencuci.
“Air hujan saja sekarang orang jual seperti harga air galon isi ulang, bahkan di atasnya Rp25 ribu sampai Rp50 ribu per galon. Tapi airnya keruh sekali, tidak bisa untuk minum, paling untuk cuci dan mandi,” katanya.
Untuk kebutuhan minum, masyarakat terpaksa membeli air kemasan. Harga air minum dalam kemasan galon juga mengalami kenaikan dibandingkan kondisi normal.
Menurut Nasrianto, air minum kemasan Le Minerale yang biasanya sekitar Rp60 ribu per galon kini dijual sekitar Rp75 ribu hingga Rp80 ribu per galon.
Kondisi tersebut semakin menyulitkan warga yang memiliki keterbatasan ekonomi. Sebagian masyarakat bahkan terpaksa menggunakan air yang tersedia untuk memasak karena tidak mampu membeli air minum.

“Mau tidak mau kita masak pakai air ini saja daripada kita tidak makan. Mau beli di kios mahal, kami tidak punya uang,” kata Cicilia, warga Agats lainnya.
Mereka mengaku hanya mampu melakukan penyaringan sederhana terhadap air tersebut menggunakan kain dan pasir untuk mengurangi bau serta warna air sebelum digunakan.
“Semoga hujan cepat turun biar kami bisa minum air bersih. Kami berharap ada perhatian pemerintah dengan memberikan solusi sehingga masalah air ini segera teratasi” harap Cicilia.
Warga berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah untuk mengatasi krisis air bersih yang telah berlangsung selama berminggu-minggu tersebut.
Falen meminta pemerintah daerah hingga pemerintah pusat melihat langsung kondisi masyarakat di Agats yang hingga kini masih sangat bergantung pada air hujan.
“Kami mohon kepada Pak Bupati, kalau bisa Pak Presiden, tolong lihat kami di Asmat. Sudah puluhan tahun kota ini jadi kabupaten, tapi sampai sekarang kami masih susah mendapatkan air bersih. Kami hanya mengandalkan air hujan,” katanya.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Asmat mulai mencari solusi jangka panjang untuk mengatasi persoalan air bersih di Agats.
Bupati Asmat Thomas Eppe Safanpo sebelumnya mengatakan pemerintah daerah sedang menjajaki penggunaan teknologi desalinasi untuk mengolah air laut atau air payau menjadi air tawar yang layak dikonsumsi.
Hal tersebut disampaikan Thomas saat menghadiri pembahasan KUPA-PPAS Tahun Anggaran 2026 di Ruang Sidang DPRK Asmat, Selasa (11/8/2026) lalu.
Thomas mengatakan, pemerintah daerah telah menjajaki teknologi desalinasi di Jakarta dan masih melakukan kajian, termasuk terkait biaya serta efisiensi teknologi tersebut.
Menurutnya, penerapan teknologi desalinasi membutuhkan biaya cukup besar. Namun, pemerintah daerah tetap berupaya agar solusi tersebut dapat direalisasikan secara bertahap sesuai kemampuan anggaran.
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat Agats masih menunggu hujan sebagai sumber air utama mereka. Antrean panjang jeriken menjadi pemandangan sehari-hari, sementara air yang diperoleh pun belum tentu layak untuk diminum.
Bagi warga, kebutuhan mereka sederhana. Mereka hanya ingin mendapatkan air bersih yang layak untuk diminum, memasak, mandi dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Pak Bupati, tolong lihat kami.” (Emanuel)





