Beranda / Regional / Tiga Kapal Nelayan Merauke Dilaporkan Mengalami Musibah di Perairan Papua Nugini, Belasan ABK Belum Diketahui Nasibnya

Tiga Kapal Nelayan Merauke Dilaporkan Mengalami Musibah di Perairan Papua Nugini, Belasan ABK Belum Diketahui Nasibnya

Merauke, Suara Bentara | Tiga kapal nelayan asal Merauke, Papua Selatan, dilaporkan mengalami musibah di perairan Papua Nugini. Satu kapal dipastikan tenggelam, sementara dua kapal lainnya dilaporkan hilang dan hingga kini belum diketahui keberadaannya. Belasan anak buah kapal (ABK) juga belum diketahui nasibnya.

Informasi yang diperoleh Suara Bentara dari seorang nelayan di Merauke menyebutkan terdapat sekitar 18 ABK yang berada di tiga kapal tersebut. Dari laporan sementara, satu kapal dilaporkan tenggelam dan satu nahkoda bernama Basri yang menakhodai KM Raditi Jaya dikabarkan berhasil selamat setelah ditolong nelayan di Papua Nugini.

Sumber tersebut juga menyebutkan kondisi cuaca di lokasi kejadian cukup buruk dengan gelombang laut mencapai dua hingga tiga meter.

“Kapal yang dinakhodai Basri tenggelam hari Minggu kemarin. Gelombang tinggi sekitar 2 sampai 3 meter. Kapal kami terpaksa kembali (ke Merauke), karena takut. Dua kapal lain belum pasti, apakah tenggelam atau ditangkap. Saat dikontak dengan radio, tidak ada jawaban dari mereka,” kata dia.

Sementara Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Provinsi Papua Selatan, Taufik Latarisa, saat dikonfirmasi Suara Bentara, Rabu (15/7/2026) sore, membenarkan adanya laporan mengenai musibah yang menimpa kapal-kapal nelayan asal Merauke tersebut.

Menurut Taufik, kapal yang telah dipastikan tenggelam adalah KM Cahaya Rafa berukuran 47 Gross Ton (GT). Namun informasi mengenai dua kapal lainnya masih terus ditelusuri karena belum ada laporan resmi dari otoritas terkait.

“Kami memang menerima informasi bahwa ada satu kapal yang tenggelam dan dua kapal lainnya mengalami masalah. Tetapi sampai sekarang kami belum bisa memastikan apakah dua kapal itu tenggelam atau diamankan oleh otoritas Papua Nugini,” ujar Taufik.

Ia mengatakan salah satu ABK bernama Iwan yang berada di kapal pertama yang tenggelam hingga kini dilaporkan belum ditemukan. HNSI Papua Selatan juga masih berkoordinasi dengan Satpolairud Polres Merauke, Badan Pengelola Perbatasan, serta jaringan nelayan Indonesia yang berada di Papua Nugini untuk memperoleh informasi yang lebih akurat.

“Laporan yang kami terima masih simpang siur. Ada informasi bahwa dua kapal tersebut tenggelam, ada juga yang menyebut terdampar lalu diamankan oleh polisi Papua Nugini. Karena itu kami masih melakukan verifikasi sebelum menyampaikan data yang pasti ,” katanya.

Taufik menambahkan pihaknya juga sedang berupaya memperoleh data valid terkait nama kapal, jumlah ABK, serta identitas pemilik kapal yang terlibat dalam insiden tersebut.

“Kami berharap seluruh awak kapal dapat ditemukan dalam keadaan selamat. Kami juga berharap segera ada informasi resmi dari otoritas terkait agar keluarga para nelayan mendapatkan kepastian,” ujarnya.

Informasi yang dihimpun Suara Bentara menyebutkan kapal-kapal nelayan Indonesia kerap beroperasi di wilayah perairan yang berbatasan dengan Papua Nugini dan Australia untuk menangkap ikan bernilai ekonomi tinggi seperti kakap cina, gulama, dan kuru. Selain ikan, gelembung ikan menjadi komoditas yang banyak diburu karena memiliki nilai jual tinggi di pasaran.

Kapal-kapal tersebut umumnya beroperasi dari Merauke dan kerap berlabuh di kawasan Kali Torasi yang berada di wilayah perbatasan Indonesia dan Papua Nugini.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari otoritas Indonesia maupun Papua Nugini mengenai jumlah pasti korban maupun keberadaan dua kapal yang masih dilaporkan hilang. (Emanuel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *