Beranda / Info Program MBG / SPPG Pasar Dolog Agats Layani 7 Sekolah, Produksi MBG Bertahap hingga 2.500 Porsi

SPPG Pasar Dolog Agats Layani 7 Sekolah, Produksi MBG Bertahap hingga 2.500 Porsi

Agats, Suara Bentara | Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pasar Dolog Agats mulai beroperasi sejak 23 Februari 2026 dan saat ini melayani tujuh sekolah di Distrik Agats melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kepala SPPG Pasar Dolog Agats, Yostin Dandan Matasak, mengatakan selama bulan Ramadhan dapur MBG menyiapkan menu kering bagi para siswa.

“Selama bulan Ramadhan kami menyiapkan menu kering, bukan menu basah. Biasanya berupa roti, puding, telur, kacang, dan buah,” kata Yostin di Agats, Senin (9/3/2026)

Adapun tujuh sekolah yang dilayani yakni TK Terpadu Negeri 3 Agats, TK Terpadu Negeri 1 Syuru, PAUD Anugerah Api Kemuliaan, PAUD Al Ma’arif Yasnu, TK/PAUD SPS GKI, SMA Negeri 1 Agats, dan SMAK Seminari Yohanes Penginjil Asmat.

Ia menjelaskan kapasitas produksi dapur ditargetkan mencapai 2.500 porsi per hari. Namun jumlah tersebut dipenuhi secara bertahap selama empat minggu operasional.

“Pada minggu pertama kami memproduksi sekitar 1.100 porsi, minggu kedua meningkat menjadi 1.388 porsi. Minggu ketiga diperkirakan sekitar 2.000 porsi, dan minggu keempat ditargetkan mencapai 2.500 porsi,” ujarnya.

Proses produksi dimulai dari pengadaan bahan baku oleh mitra yang bekerja sama dengan pemasok. Bahan baku yang masuk ke dapur kemudian kembali disortir oleh tim untuk memastikan kualitasnya sebelum diolah.

“Buah dan telur kami periksa satu per satu. Kalau ada yang kurang baik, kami kembalikan ke pemasok. Semua harus memenuhi standar karena setiap dapur memiliki ahli gizi yang mengatur takaran gizinya,” jelas Yostin.

Setelah proses sortir, bahan baku disiapkan oleh tim persiapan, kemudian diolah oleh tim produksi. Proses pengemasan dilakukan pada dini hari sebelum makanan didistribusikan ke sekolah-sekolah penerima manfaat.

SPPG Pasar Dolog Agats juga melibatkan masyarakat lokal dalam operasional dapur. Tenaga kerja orang asli Papua direkrut di berbagai divisi, termasuk produksi dan kebersihan.

“Kami juga merekrut orang asli Papua di beberapa divisi. Bahkan koordinator tim kebersihan juga orang asli Papua,” katanya.

Dalam proses distribusi, tim dapur juga menghadapi tantangan akses menuju salah satu sekolah, yakni SMAK Seminari Yohanes Penginjil Asmat, yang memiliki jarak sekitar satu kilometer dari jalan utama.

“Karena jalannya cukup jauh, distribusi dilakukan dengan sepeda motor. Ke depan kami akan menyiapkan gerobak agar lebih mudah,” tambahnya.

Sementara itu, Wakil Ketua I DPRK Asmat, Jasman Tumpu, mengatakan pihaknya terus melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan program MBG di daerah tersebut.

Menurut Jasman, program ini mendapat sambutan positif dari sekolah, guru, maupun para siswa.

“Kami melihat penerimaan dari sekolah dan siswa sangat baik. Anak-anak juga sangat antusias, bahkan tingkat kehadiran di sekolah cukup tinggi sejak adanya program MBG ini,” ujarnya.

Selain meningkatkan pemenuhan gizi bagi pelajar, Jasman menilai program MBG juga memiliki potensi besar mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Ia berharap pelaku usaha lokal, petani, nelayan, dan pelaku UMKM dapat dilibatkan dalam penyediaan bahan baku untuk dapur-dapur MBG di Asmat.

“Kalau pelaku usaha lokal, petani, nelayan, dan UMKM dilibatkan, maka dampak ekonominya akan sangat besar bagi masyarakat di Asmat,” katanya. (Emanuel/Nasrianto)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *