Asmat, Suara Bentara | Kenaikan harga bahan pokok serta kendala distribusi ke wilayah Asmat mulai memberi tekanan terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hasil pemantauan di lapangan menunjukkan lonjakan harga sembako berkisar antara 5 hingga 10 persen dalam beberapa waktu terakhir.
Koordinator Wilayah (Korwil) SPPG Asmat, Halima Sadat, menyebut faktor transportasi menjadi tantangan utama dalam menjaga kestabilan pasokan bahan pangan.
“Transportasi ke Asmat tidak selalu lancar. Ini berdampak langsung pada ketersediaan bahan dan distribusi ke dapur MBG,” ujarnya dalam wawancara, Minggu (27/04/2026).
Ia menjelaskan, kenaikan harga tidak bisa dilepaskan dari kondisi geografis Asmat yang masih bergantung pada pasokan dari luar daerah.
Dampak tersebut turut dirasakan oleh pelaku usaha lokal yang menjadi pemasok kebutuhan MBG. Tanto, salah satu pedagang sekaligus pemasok susu, mengaku menghadapi tekanan biaya yang cukup signifikan.
“Kami berharap ada penyesuaian harga dari pihak MBG. Saat ini kami mengambil stok susu dari Surabaya, tetapi harga di sana naik dan barang juga mulai sulit didapat karena keterbatasan produksi dari agen,” ungkapnya.

Ia merinci, harga susu yang sebelumnya berada di kisaran Rp112 ribu per karton kini melonjak menjadi Rp135 ribu per karton. Kenaikan juga terjadi pada biaya distribusi.
“Biaya kontainer naik, belum lagi ongkos buruh angkut. Risiko kerusakan barang juga tinggi,” tambahnya.
Di sisi lain, harga jual yang diterima pemasok dinilai belum mengikuti kondisi pasar.
“Kami saat ini dibayar sekitar Rp4.580 per pcs, sementara di kios-kios harga susu Frisian Flag putih sudah naik ke Rp5.000 hingga Rp7.000 per pcs, itu pun jika barang tersedia,” jelas Tanto.
Meski menghadapi berbagai tantangan, pihak SPPG tetap berkomitmen menjaga kualitas layanan MBG. Halima menegaskan bahwa pemenuhan gizi bagi anak-anak sekolah tetap menjadi prioritas utama.
“Kami terus berupaya agar layanan tetap berjalan optimal. Namun tentu diperlukan dukungan, terutama dalam hal distribusi dan penyesuaian harga agar program ini berkelanjutan,” tegasnya.
Kondisi ini menjadi perhatian serius, mengingat keberhasilan program MBG di wilayah terpencil seperti Asmat sangat bergantung pada stabilitas pasokan, harga, serta dukungan logistik yang memadai. (Nasrianto)






