Oleh: Helekma Amelia Haluk dkk.(Mahasiswa Program Studi Administrasi Bisnis, FEB, Universitas Amal Ilmiah Yapis Wamena)
Pagi di Pasar Jibama selalu dimulai dengan kesibukan. Udara sejuk khas Lembah Baliem menyelimuti para pedagang yang satu per satu menggelar dagangannya. Di antara tumpukan petatas, sayuran hijau, dan buah-buahan segar, seorang mama Papua duduk tenang di balik lapaknya. Sesekali ia menyapa pembeli yang lewat, berharap dagangannya laku terjual hari itu.
Dialah Mama Martha, perempuan Papua berusia 60 tahun yang selama bertahun-tahun menjadikan Pasar Jibama sebagai tempat menggantungkan harapan hidup keluarganya.
Pasar Jibama, atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Pasar Baru, merupakan salah satu pusat ekonomi rakyat terbesar di Kota Wamena, Papua Pegunungan. Terletak di Kampung Hetuma, di perbatasan Distrik Wamena Kota dan Distrik Hubikiak, pasar ini berdiri di kawasan Lembah Baliem yang berada pada ketinggian sekitar 1.600–1.800 meter di atas permukaan laut.
Setiap hari, pasar ini menjadi tempat bertemunya petani, pedagang, dan pembeli dari berbagai penjuru Wamena.
Di pasar inilah denyut kehidupan masyarakat kecil terasa begitu nyata.
Lapak-lapak sederhana dipenuhi hasil bumi yang ditanam dengan susah payah di kebun-kebun kampung. Petatas, singkong, keladi, sawi, kol, bayam, kangkung, pakis, wortel, kentang, tomat, cabai, hingga berbagai rempah dapur tersusun rapi menunggu pembeli. Di sudut lain tampak buah-buahan segar seperti alpukat, pisang, pepaya, nanas, mangga, bahkan markisa dan stroberi khas Wamena yang menjadi kebanggaan masyarakat setempat.
Bagi sebagian orang, barang-barang itu mungkin hanya komoditas pasar. Namun bagi Mama Martha dan banyak mama Papua lainnya, hasil bumi tersebut adalah sumber kehidupan.

Sejak suaminya meninggal dunia, Mama Martha harus menjalani peran yang tidak ringan. Ia menjadi ibu sekaligus kepala keluarga bagi lima anaknya, empat laki-laki dan satu perempuan. Tidak ada pilihan lain selain terus bekerja agar dapur tetap mengepul dan kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.
Setiap Senin, Kamis, dan Sabtu, Mama Martha berangkat dari Kampung Siepkosi menuju Pasar Jibama. Hasil kebun yang dijual berasal dari tanah yang ia olah sendiri di belakang rumahnya.
Dari kebun sederhana itulah ia memanen harapan. Perjalanan menuju pasar bukan perkara mudah. Dari Kampung Siepkosi ke Pasar Jibama, jaraknya sekitar 11,2 kilometer. Dengan menumpang angkutan umum melalui Jalan Pikhe, ia membutuhkan waktu sekitar 22 menit untuk sampai ke pasar. Perjalanan itu telah menjadi rutinitas yang dijalaninya selama bertahun-tahun.
Namun tantangan sesungguhnya bukanlah jarak. Tantangan terbesar adalah ketidakpastian.
Saat ditemui pada 26 Mei 2026, Mama Martha bercerita bahwa penghasilannya tidak pernah menentu. Jika pembeli ramai, ia bisa membawa pulang sekitar Rp100.000 dalam sehari. Namun ketika pasar sepi, penghasilannya bisa turun menjadi Rp50.000, bahkan hanya Rp20.000. Ada juga hari-hari ketika ia harus pulang tanpa memperoleh hasil sama sekali.
“Kadang-kadang dalam satu hari tidak ada pendapatan sama sekali karena pembeli sepi,” ujarnya pelan.
Meski demikian, ia tidak pernah berhenti datang ke pasar.
Menurutnya, banyak sedikitnya pendapatan juga bergantung pada jenis barang yang dijual. Jika hasil kebun yang dibawa beragam, pembeli biasanya lebih tertarik. Sebaliknya, jika hanya menjual satu jenis komoditas, peluang mendapatkan pembeli menjadi lebih kecil.
Setiap rupiah yang diperoleh memiliki arti penting. Uang hasil jualan digunakan untuk membeli beras, minyak goreng, garam, dan kebutuhan rumah tangga lainnya.
“Saya Menjual, Dapat Hasil Tidak Begitu Besar, Tapi Kadang Sangat Cukup Untuk Memenuhi Kebutuhan Sehari-Hari Keluarga,” Tuturnya Sambil Tersenyum.
Senyum itu mungkin sederhana, tetapi di baliknya tersimpan cerita panjang tentang perjuangan seorang ibu.
Mama Martha bukan satu-satunya. Di Pasar Jibama, terdapat banyak mama-mama Papua yang menjalani kehidupan serupa. Mereka datang dari berbagai kampung di sekitar Wamena dengan membawa hasil kebun sendiri. Mereka bangun pagi, menempuh perjalanan, lalu duduk berjam-jam menunggu pembeli. Dari hasil jualan itulah mereka membiayai kehidupan keluarga, menyekolahkan anak-anak, dan menjaga harapan tetap hidup.
Karena itu, Pasar Jibama sesungguhnya bukan hanya tempat jual beli. Pasar ini adalah ruang perjuangan. Setiap petatas yang dijual, setiap ikat sayur yang berpindah tangan, dan setiap rupiah yang diterima menyimpan kisah tentang kerja keras masyarakat kecil.
Dalam perspektif Sistem Ekonomi Indonesia, apa yang dilakukan Mama Martha mencerminkan wajah nyata ekonomi kerakyatan. Ia menanam, memanen, dan menjual hasil kebunnya sendiri. Aktivitas sederhana itu menunjukkan bahwa perekonomian tidak hanya digerakkan oleh perusahaan besar atau investasi besar, tetapi juga oleh rakyat biasa yang bekerja dengan segala keterbatasan yang mereka miliki.
Kisah Mama Martha juga mengingatkan bahwa perempuan memiliki peran yang sangat penting dalam pembangunan ekonomi. Di tengah berbagai tantangan, ia mampu menjadi penopang keluarga sekaligus pelaku ekonomi yang menjaga keberlangsungan hidup rumah tangganya.
Pada akhirnya, Pasar Jibama mengajarkan satu hal penting: ekonomi rakyat bukan sekadar teori dalam buku kuliah. Ia hidup dalam keseharian masyarakat. Ia hadir dalam langkah kaki mama-mama yang membawa hasil kebun ke pasar, dalam tangan-tangan yang bekerja tanpa lelah, dan dalam harapan yang terus diperjuangkan dari hari ke hari.
Di tengah ramainya Pasar Jibama, Mama Martha mungkin hanyalah satu dari sekian banyak pedagang. Namun kisahnya menjadi cermin tentang keteguhan hati, semangat pantang menyerah, dan kekuatan perempuan Papua dalam menjaga kehidupan keluarganya.
Dari lapak sederhana di Pasar Jibama, Mama Martha menunjukkan bahwa ekonomi kerakyatan bukan hanya konsep dalam konstitusi. Ia adalah kenyataan yang hidup, tumbuh, dan bertahan bersama rakyat.***






