Beranda / Berita Utama / 5.543 Titik Api Terdeteksi di Merauke, Asap Jadi Perhatian

5.543 Titik Api Terdeteksi di Merauke, Asap Jadi Perhatian

Merauke, Suara Bentara | Sebanyak 5.543 titik panas (hotspot) terdeteksi di Kabupaten Merauke, Papua Selatan, berdasarkan data yang dipaparkan BMKG Merauke dalam rapat koordinasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Jumat (9/10/2026).

Jumlah tersebut menjadi perhatian karena kebakaran juga memicu sebaran asap yang berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat dan penerbangan.

Dalam pemaparan BMKG, titik panas juga terdeteksi di Kabupaten Mappi sebanyak 1.855 titik dan Kabupaten Boven Digoel sebanyak 1.754 titik. Angka tersebut merupakan data yang disampaikan dalam rapat dan perlu dibaca sesuai periode pemantauan yang digunakan.

BMKG menjelaskan, asap di wilayah Papua Selatan terutama bersumber dari kebakaran lokal. Pergerakan asap dipengaruhi kondisi angin, dengan arah dari barat daya pada pagi hari dan dari barat pada siang hingga malam.

Dalam paparan tersebut, jarak pandang di sejumlah lokasi disebut dapat menurun hingga sekitar satu kilometer. Kondisi ini menjadi perhatian karena jarak pandang yang terbatas dapat mengganggu kelancaran dan keselamatan penerbangan. Distrik Semangga juga disebut sebagai salah satu wilayah yang perlu mendapat perhatian terkait kepadatan asap dan kualitas udara.

Paparan BMKG turut menyebut kemungkinan sebaran asap hingga Kabupaten Asmat, kawasan Taman Nasional Lorentz, dan Provinsi Nusa Tenggara Timur. Informasi mengenai jangkauan asap tersebut merujuk pada bahan pemaparan dalam rapat.

Salah satu upaya yang turut dibahas untuk meningkatkan peluang hujan adalah Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Namun, pelaksanaannya bergantung pada ketersediaan awan yang memenuhi persyaratan untuk penyemaian.

Sementara itu, Balai Taman Nasional Wasur menyoroti kondisi kekeringan yang memperbesar risiko kebakaran. Vegetasi yang mengering mudah terbakar, sedangkan medan yang sulit dijangkau menjadi tantangan bagi petugas saat melakukan pemadaman.

Upaya penanganan yang disampaikan Balai Taman Nasional Wasur meliputi patroli, pemadaman, pemantauan menggunakan drone, edukasi masyarakat, serta koordinasi dengan BPBD, TNI, dan unsur terkait lainnya. Dukungan peralatan dan sumber daya juga dinilai penting untuk memperkuat penanganan di lapangan.

Dalam rapat yang sama, sejumlah unsur meminta Pemerintah Kabupaten Merauke mempertimbangkan penetapan status penanganan karhutla. Usulan tersebut berkaitan dengan kebutuhan koordinasi dan dukungan sumber daya untuk menghadapi kebakaran. Penetapan status masih dalam pembahasan dan belum dinyatakan resmi berlaku.

Bupati Merauke, Yoseph Bladib Gebze, meminta seluruh instansi meningkatkan kesiapsiagaan dan memperkuat koordinasi. Ia juga mengingatkan pelaku usaha, khususnya yang beraktivitas di sekitar kawasan hutan, agar menjaga lingkungan dan tidak membuka lahan dengan cara membakar.

Besarnya jumlah titik panas menjadi peringatan bagi pemerintah dan masyarakat untuk memperkuat pencegahan, pemantauan, serta penanganan kebakaran sebelum api meluas dan dampak asap semakin mengganggu aktivitas warga. (Emanuel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *