Merauke, Suara Bentara | Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Merauke saat ini mengalami kelebihan kapasitas penghuni. Dari kapasitas ideal sebanyak 300 orang, jumlah warga binaan yang menghuni lapas tersebut telah mencapai 562 orang.
Kepala Lapas Kelas IIB Merauke mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan terkait upaya mengurangi kepadatan penghuni lapas.
“Insya Allah pertengahan atau akhir bulan ini kami akan mengirim sekitar 25 warga binaan ke Lapas Kelas III Tanah Merah. Namun kami masih berkoordinasi terlebih dahulu dengan Kantor Wilayah,” ujarnya.
Menurutnya, mayoritas penghuni lapas saat ini berasal dari kasus narkotika, perlindungan anak, dan tindak pidana lainnya.
Meski mengalami over kapasitas, pelayanan terhadap warga binaan tetap berjalan sebagaimana mestinya, termasuk penyediaan makanan. Ia menegaskan anggaran makan tetap disalurkan berdasarkan jumlah penghuni yang ada.
“Kalau penghuni mencapai 600 orang, maka penghitungan kebutuhan makan juga disesuaikan dengan jumlah tersebut. Jika terjadi kekurangan anggaran, nantinya negara akan membayar kepada pihak ketiga sesuai mekanisme yang berlaku,” katanya.
Dalam hal pembinaan, Lapas Merauke tetap menjalankan berbagai program bagi warga binaan, baik pembinaan kepribadian maupun pembinaan kemandirian.
Untuk pembinaan kepribadian, lapas bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk instansi keagamaan, guna memperkuat pembinaan mental dan rohani warga binaan.
Sementara untuk pembinaan kemandirian, warga binaan dilibatkan dalam kegiatan pertanian seperti menanam jagung dan terong. Ke depan, pihak lapas berencana mengembangkan program pertanian hidroponik melalui kerja sama dengan Dinas Pertanian dan Perikanan.
“Kami berencana membuat tanaman hidroponik, apakah itu sawi, kangkung atau tanaman lainnya sesuai petunjuk dari dinas terkait,” ujarnya.
Terkait rencana pemindahan warga binaan ke Lapas Tanah Merah, pihaknya akan memprioritaskan narapidana yang berasal dari wilayah Boven Digoel dan sekitarnya agar lebih dekat dengan keluarga mereka.
“Kami akan mencari warga binaan yang memang berasal dari Tanah Merah. Kalau masih kurang, kami akan mencari yang berasal dari daerah terdekat agar keluarganya lebih mudah berkunjung,” katanya.
Mengenai pengamanan lapas, Kepala Lapas mengaku selama dua bulan bertugas di Merauke belum terjadi kasus pelarian narapidana. Untuk memperkuat pengamanan, pihaknya meningkatkan pengawasan petugas jaga dan mendapat bantuan personel dari Direktorat Jenderal Pemasyarakatan.
“Lapas Merauke mendapat bantuan 10 personel BKO yang diperbantukan untuk mendukung pengamanan di dalam lapas,” ujarnya.
Ia berharap berbagai langkah yang dilakukan dapat menjaga keamanan lapas sekaligus memastikan program pembinaan bagi warga binaan tetap berjalan dengan baik meski kondisi hunian telah melebihi kapasitas. (Emanuel)






